Minggu, 01 Oktober 2017

Survey Penyakit Parasit Darah pada Sapi





Survey Penyakit Parasit Darah pada Sapi di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Kabupaten Lima Puluh Kota

Eka Oktarianti1, Betty Indah Purnama2
1UPT Peternakan dan Pukeswan Wilayah III Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Lima Puluh Kota
2Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat
E-mail : eka.oktarianti0606@gmail.com
eka.oktarianti26@yahoo.co.id

ABSTRAK

Parasit darah adalah penyakit yang bersifat endemik terutama di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Parasit darah yang penting di Indonesia adalah Anaplasmosis, Babesiosis dan Tehileriosis. Parasit darah berdampak secara ekonomi terhadap usaha sektor peternakan karena dapat menimbulkan kerugian. Survey ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi parasit darah, serta faktor yang memengaruhi kejadian parasit darah. Survey dilakukan terhadap 100 ekor sapi potong yang diambil sampel darah di wilayah kerja UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III pada dua kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota (Kecamatan Situjuah dan Akabiluru). Pengambilan sampel dilakukan pada kelompok ternak sapi dengan metoda sampel alokasi proporsional (Proportional sampling). Data kuisioner dikumpulkan dan diolah menggunakan Statistix for Windows Version 8 software. Analisis data meliputi: analisis univariat dan bivariat dengan chi-square2) dan odds ratio (OR). Hasil survey menunjukkan bahwa prevalensi kejadian parasit darah adalah 97%, kejadian parasit darah akibat infeksi oleh Babesia sp. sebesar 11%, prevalensi kinfeksi penyakit Theileria sp. adalah 89%, dan prevalensi kejadian parasit darah yang disebabkan oleh Anaplasma sp. adalah sebesar 50%. Faktor yang berasosiasi meningkatkan kejadian parasit darah adalah tipologi peternak, pengalaman beternak, tempat pakan, ketersediaan air, frekuensi memandikan sapi, frekuensi penanggulangan vektor, tempat penampungan kotoran, tipe lantai, sistem pemberian pakan, pengetahuan tentang parasit darah, dan cara penggunaan insektisida. Hasil survey ini dapat disimpulkan bahwa kejadian parasit darah pada sapi potong disebabkan oleh multifaktor.

Kata kunci : Parasit darah, prevalensi, faktor risiko, sapi,  UPT III Kabupaten Lima Puluh Kota

Pendahuluan

Parasit darah adalah penyakit yang bersifat endemik terutama di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia (10). Parasit darah yang penting di Indonesia adalah Anaplasmosis, Babesiosis dan Tehileriosis. Infeksi penyakit Anaplasma, Babesia dan Theileria berdampak secara ekonomi terhadap usaha sektor peternakan karena dapat menimbulkan kerugian, tidak hanya karena tingkat kematian, angka kesakitan, abortus, penurunan produksi susu dan daging (4,21), biaya untuk pengobatan(5), juga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, penurunan berat badan, penurunan produktifitas, dan penurunan status reproduksi (20). Infestasi berbagai jenis parasit pada ternak tersebut, juga merupakan salah satu kendala dalam peningkatan dan perbaikan status kesehatan ternak yang merupakan bagian dari usaha dalam peningkatan populasi dan produktivitas ternak di Indonesia.
Penyebaran penyakit parasit darah sangat bergantung kondisi ternak (hospes), agen penyakit, vektor dan lingkungan (5), diantaranya kondisi geografis, iklim, cuaca, sosial budaya dan sosial ekonomi di daerah tersebut (20), sedangkan menurut Alonso et al. (1992), penyakit parasit darah juga dapat dipengaruhi oleh ras sapi, acarisida (insektisida), dan sistem pemberian pakan.Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anggarini NF (2013) faktor risiko yang berasosiasi dengan kejadian parasir darah adalah oleh jenis kelamin ternak, umur ternak, cara beternak (2).
Kabupaten Lima Puluh Kota termasuk daerah padat ternak dan mempunyai potensi peternakan yang besar, terletak di daerah tropis, dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 2200-3750 mm/tahun, suhu rata-rata berkisar antara 200C–250C, dengan kelembapan berkisar antara 60-80% (3). Tingginya populasi ternak serta kondisi cuaca yang lembab dapat menjadi salah satu faktor berkembangnya berbagai penyakit ternak, salah satunya parasit darah.
Pada tahun 2014, telah dilakukan pengambilan sampel darah terhadap 100 ekor sapi potong untuk dilakukan pemeriksaan terhadap parasit darah. Hasilnya menunjukkan bahwa sapi yang terinfeksi Anaplasma sp. sebanyak 32 ekor, Babesia sp. 3 ekor, dan yang terinfeksi Theileria sp. sebanyak 100 ekor, sedangkan analisa terhadap faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya parasit darah pada ternak belum dilakukan. Survei terhadap prevalensi dan faktor risiko ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada instansi terkait dalam merumuskan kebijakan pengendalian dan pencegahan kejadian parasit darah sehingga kegiatan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Tujuan Penulisan

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi kejadian parasit darah dan faktor risiko yang memengaruhi kejadian parasit darah di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Kabupaten Lima Puluh Kota, sehingga akan didapatkan informasi ilmiah yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Lim Puluh Kota dalam menentukan kebijakan pencegahan dan penanggulangan penyakit parasit darah.

Materi dan Metode

Survei ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan menyidik faktor risiko yang berpengaruh terhadap penyakit parasit darah. Variabel dependen (Y) adalah sapi yang mengalami parasit darah (Babesiosis, Theileriosis, dan Anaplasmosis), sedangkan faktor risiko sebagai variabel independen (X) adalah kelompok ternak,tipologi peternak, pendidikan, pengalaman beternak, jumlah kepemilikan, tempat makan dan minum, ketersediaan air, frekuensi membersihkan kandang, frekuensi memandikan sapi, frekuensi penanggulangan vektor, penampung kotoran, kondisi lantai, kondisi kandang, sistem pemeliharaan, sistem pemberian pakan, pengetahuan tentang parasit darah, asal sapi, umur sapi, infestasi ektoparasit, dan cara penggunaan insektisida.
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan kuisioner terhadap peternak, pengamatan terhadap ternak dan peternakan, pemeriksaan kesehatan ternak, pengambilan sampel darah dan pembuatan preparat ulas darah. Data sekunder adalah data populasi ternak di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III berdasarkanData Statistik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2014. Pengambilan sampel dilakukan pada kelompok ternak dengan metoda sampel alokasi proporsional (Proportional sampling), dengan rumus :

Fraksi sampel =   Besar sampel  x jumlah ternak sapidi kelompok ternak
             Populasi ternak sapi di kec (Puskeswan)
Pengambilan sampel kelompok sapi dengan menggunakan random sampling di jorong-jorong pada beberapa nagari atau desa di wilayah kerja UPT Wilayah III. Kelompok ternak yang diambil sampel darah sapinya adalah Kelompok Ternak Sago Sejati, Tuah Sakato, Lurah Kubu, Lokuak Dama, Fajar Surya, Immahdi, Elok Basamo, Bukik Komba, Sungai Jelatang dan Armen, dengan jumlah sampel sebanyak 100 ekor. Sampel berupa preparat ulas darah dikirim ke balai Veteriner Bukittingi untuk dilakukan pengujian terhadap parasit darah.
Data dianalisis secara univariat (frekuensi dan distribusi), serta bivariat (uji chi-square (c2) dan (odds ratio), dengan menggunakan software Statistic for Windows Version 8.

Hasil

Tingkat prevalensi infeksi parasit darah
Tingkat prevalensi infeksi parasit darah pada sapi kelompok ternak di wilayah kerja UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat prevalensi infeksi parasit darah
Kelompok
Jumlah sampel
Hasil pemeriksaan
Babesia sp.
Theileria sp.
Anaplasma sp.
Jml (+)
%
Jml (+)
%
Jml (+)
%
Sago Sejati
7
0
0
6
85.7
5
71.4
Tuah Sakato
9
1
11.1
7
77.8
7
77.8
Lurah Kubu
14
0
0
10
71.4
13
92.9
Lokuak Dama
10
0
0
9
90
8
80
Fajar Surya
7
0
0
7
100
0
0
Immahdi
17
0
0
17
100
6
35.3
Elok Basamo
5
1
20
5
100
2
40
Bukik Komba
9
6
66.7
9
100
6
66.7
Sei. Jelatang
11
2
18.2
11
100
2
18.2
Armen
11
1
9.1
8
72.7
1
9.1
Jumlah
100
11
11
89
89
50
50

Sampel darah sapi yang diperiksa sebanyak 100 sampel, diketahui bahwa prevalensi kejadian parasit darah sebesar 97%. Prevalensi Babesia sp. sebesar 11%, Theileria 89% dan prevalensi Anaplasma sp. sebesar 50%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh  Himawan (2009), tingkat prevalensi infeksi parasit darah dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (suhu, curah hujan dan kelembapan). Ditinjau dari letak geografinya, kelompok ternak tersebut pada umumnya berada pada dataran tinggi di lereng Gunung Sago  sehingga mempunyai kelembababan yang tinggi. Curah hujan dan sistem pemeliharaan ternak yang berbedadapat menyebabkan perkembangan vektor (caplak) sebagai penyebar infeksi Babesia sp., Theileria sp., dan Anaplasma sp. akan berbeda pada setiap wilayah (Nasution, 2007).
 
Faktor risiko kejadian parasit darah berdasarkan analisis bivariat
Hasil analisis faktor risiko terhadap beberapa variabel,menunjukkan bahwa faktor yang mempunyai asosiasi (P < 0,05) terhadap kejadian parasit darah di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota, disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil analisis faktor risiko kejadian parasit darah
Faktor
N
Babesia sp.
Theileria sp.
Anaplasma sp.
n
%
P
OR
n
%
p
OR
n
%
p
OR
Kelompok













Sago sejati
7
0
0


6
85.7


5
71.4


Tuah sakato
9
1
11.1


7
77.8


7
77.8


Lurah kubu
14
0
0


10
71.4
0.024*
0.22
13
92.9
0.001*
17.22
Lokuak dama
10
0
0


9
90


8
80
0.046*
4.57
Fajar surya
7
0
0


7
100


0
0
0.006*
Ref
Immahdi
17
0
0


17
100


6
35.3


Elok basamo
5
1
20


5
100


2
40


Bukik komba
9
6
66.7
0.000*
34.4
9
100


6
66.7


Sei jelatang
11
2
18.2


11
100


2
18.2
0.025*
0.19
Armen
11
1
9.1


8
72.7


1
9.1
0.004*
0.08
Tipologi













Usaha pokok
22
1
4.5


18
81.8


16
72.4


Cabang usaha
50
3
6


43
86


22
44


Sambilan
28
7
25
0.005*
5.67
28
100
0.028*
Ref
12
42.9


Pengalaman beternak













< 2 tahun
20
6
30
0.003*
6.43
20
100


9
45


>2 tahun
80
5
6.3
0.003*
0.16
69
86.3


41
51.3


Tempat pakan













Terpisah
21
1
4.8


21
100


7
33.3


1 untuk 2 sapi
62
10
16.1
0.036*
7.12
53
85.5


30
48.4


1 untuk 3/lebih sapi
17
0
0


15
88.2


13
76.5
0.017*
4.04
Ketersediaan air













Selalu tersedia
58
4
6.9


52
87.9


24
41.4
0.043*
0.43
Musiman
17
0
0


25
88.2


13
76.5
0.017*
4.04
Sulit
25
7
28
0.002*
6.90
23
92


13
52


Faktor
N
Babesia sp.
Theileria sp.
Anaplasma sp.
n
%
P
OR
n
%
p
OR
n
%
p
OR
Frekuensi memandikan sapi













Rutin
53
2
3.8
0.014*
0.17
45
84.9


26
49.1


Tidak pernah
47
9
19.1
0.014*
6.04
44
93.6


24
51.1


Frekuensi penanggulangan vektor













Rutin
46
2
4.3
0.049*
0.23
39
84.8


21
45.7


Insidentil
26
2
7.7


25
96.2


8
30.8
0.023*
0.34
Tidak pernah
28
7
25
0.005*
5.67
25
89.3


21
75
0.002*
4.45
Tempat penampung kotoran













Ada
63
3
4.8


53
84.1


34
54


Tidak ada
37
8
21.6
0.009*
5.52
36
97.3
0.042*
6.79
16
43.2


Tipe lantai kandang













Semen/permanen
84
7
8.3


75
89.3


40
47.6


Tanah
7
3
42.9
0.005*
7.97
7
100


3
42.9


Kayu 
9
1
11.1


7
77.8


7
77.8


Sistem pemberian pakan













Langsung diberikan
55
9
11.3


74
92.5
0.025*
4.11
42
52.5


Dilayukan terlebih dahulu
45
2
10


15
75
0.025*
0.24
8
40


Pengetahuan tentang parasit darah













Tahu
11
1
9.1


8
72.7


1
9.1
0.004*
12.25
Tidak tahu
89
10
11.2


81
91


49
55.1


Cara memandikan sapi













Semprot manual
72
10
13.9


64
88.9


43
59.7
0.002*
4.45
Semprot alat
28
1
3.6


25
89.3


7
25
0.002*
0.23
Dipping 
0
0
0


0
0


0
0


N:jumlah peternak, n:jumlah positif terinfeksi, %:presentase prevalensi parasit, p:nilai Pearson chi square, OR:odds ratio,


Hasil analisis faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis adalah Kelompok Ternak Bukik Komba (P=0,000; OR=34,4), tipologi sambilan (P=0,005; OR=5,67), pengalaman beternak kurang dari 2 tahun (P=0,002; OR=6,43), 1 tempat pakan disediakan untuk 2 ekor ternak (P=0,036; OR=7,12), ketersediaan air yang sulit (P=0,002; OR=6,90), tidak pernah memandikan sapi (P=0,014; OR=6,04), frekuensi penanggulangan vektor secara insidentil (P=0,005; OR=5,67), tidak ada tempat penampungan kotoran (P=0,009; OR=5,52), tipe lantai terbuat dari tanah (0,005; OR=7,97).
Hasil analisis faktor risiko terhadap kejadian Theileriosis, menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi adalah tidak ada tempat penampungan kotoran (P=0,042; OR=6,79), serta sistem pemberian pakan yang langsung diberikan tanpa dilayukan (P=0,025; OR= 4,11).
Hasil analisis faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap kejadian Anaplasmosis adalah Kelompok Ternak Lurah Kubu (P=0.005; OR=17,22), Kelompok Ternak Lokuak Dama (P=0,045; OR=4,57), Kelompok Ternak Fajar Surya (P=0,006; OR=-), tempat pakan yang disediakan 1 untuk 3 ekor atau lebih (P=0,017; OR=4,04), air yang ketersediaannya musiman (P=0,017; OR=4,04), tidak pernah melakukan penanggulangan vektor (P=0,001; OR=4,45), tidak adanya pengetahuan tentang parasit darah (P=0,004; OR=12,25), cara menggunakan insektisida secara semprot manual (P=0,002; OR= 4,45).

Pembahasan

Analisis faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap kejadian parasit darah adalah tipologi sambilan, pengalaman beternak kurang dari 2 tahun, 1 tempat pakan untuk 2 ekor ternak dan 1 tempat pakan untuk 3 ekor ternak atau lebih, ketersedaiaan air yang terbatas, tidak pernah memandikan sapi, tidak pernah dilakukanpenanggulangan vektor, tidak ada tempat penampungan kotoran, sistem pemberian pakan rumput segar yang langsung diberikan tanpa dilayukan terlebih dahulu, tidak ada pengetahuan tentang penyakit parasit darah, serta cara pemberian insektisida dengan semprot manual.
Peternakan yang dilakukan sebagai usaha sambilan berasosiasi dengan kejadian Babesia sp. dan Theileria sp., karena peternakan dengan tujuan sambilan mempunyai waktuyang terbatas untuk membersihkan kandang dan pengamatan status kesehatan hewan akibat kesibukan utama lainnya (18).Peternak dengan pengalaman kurang dari2 tahun berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis.Menurut Cahyani et al. (2012), aspek lama atau pengalaman bekerja akan diikuti dengan keterampilan yang semakin matang dalam menjalankan pekerjaannya. Peternak yang lebih lama, akan selaras dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang lebih baik pula (7). Berdasarkan analisis juga diketahui bahwa kandang dengan tempat pakan yang tidak terpisahberasosiasi terhadap kejadian Babesiosis dan Anaplasmosis, karena akan memudahkan transmisi penyakit dari ternak terinfeksi ke ternak lain di sekitarnya.Terbatasnya ketersediaan air berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis dan Anaplasmosis, karena air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi ternak, selain untuk kebutuhan minum juga untuk keperluan sanitasi kandangdan memandikan ternak.
Frekuensi memandikan sapi berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis. Berdasarkan analisis cross tabulation menunjukkan bahwa 53,2% sapi yang tidak pernah dimandikan disebabkan karna ketersediaan air yang sulit. Sapi yang sering dimandikan akan mengurangi kejadian parasit darah karena vektor (caplak) yang menempel tidak ada atau berkurang (7).Variabel manajemen kebersihan kandang yang beraosisasi terhadap kejadian parasit darah adalah tidak adanya tempat penampungan kotoran sehingga peternak cenderung membiarkan kotoran berada di bagian belakang kandang. Kondisi tersebut akan menjadikan kandang kotor sehingga menjadi tempat berkembangbiaknya vektor. Kandang yang bersih diharapkan dapat menurunkan tingkat kejadian parasit darah (7).Lantai yang terbuat dari tanah berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis, karenalantai dari tanah akan membuat kadang selalu basah dan lembab, serta terlihat kotor terutama di musim hujan. Kondisi tersebut akan menyebabkan caplak lebih cepat berkembangbiak.
Pemberian askarisida (insektisida) diperlukan pada pengendalian penyakit parasit darah. Ternak sebagian besar telah diberi insektisida, akan tetapi masih banyak ternak yang terinfeksi parasit darah. Tingginya infeksi parasit darah pada sapi yang telah diberi insektisida dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan peternak tentang penggunaan insektisida yang efektif dan efisien (2). Berdasarakan hasil survey menunjukkan bahwa penanggulangan ektoparasit yang tidak pernah dilakukan maupun yang dilakukan secara insidentil berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis dan Anaplasmosis. Pengendalian caplak dengan insektisida yang dilakukan secara semprot manual berpengaruh terhadap kejadian Anaplasmosis. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2013) menunjukan bahwa prevalensi parasit darah menggunakan insektisida cenderung lebih tinggi daripada pengambilan caplak secara manual. Hal ini diduga karena pemakaian insektisida yang salah oleh peternak. Penggunaan insektisida harus memperhatikan cara pemakaian dan dosis yang tepat agar pengendalian caplak menjadi efektif. Penyemprotan secara manual menyebabkan pemakaian yang tidak merata keseluruh tubuh ternak sehingga tidak akan membunuh semua caplak.
Cara pemberian pakan rumput yang langsung diberikan tanpa dilayukan terlebih dahulu berasosiasi terhadap kejadian Theileriosis. Menurut Himawan (2009), rumput segar dipagi hari banyak mengandung caplak yang sedang aktif berburu dan berada dipuncak rerumputan.
Tingginya prevalensi parasit darah di wilayah kerja UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III,  dapat diatasi dengan perbaikan manajemen pemeliharaan terutama kontrol terhadap vektor. Sapi yang terinfeki dapat diobati dengan antiprotozoa atau antirickettsia.

Kesimpulan dan Saran

Prevalensi infeksi parasit darah pada sapi potong di UPT Wilayah III Kabupaten Lima Puluh Kota adalah 97 %, dengan masing-masing prevalensi penyakit adalahBabesia sp.sebesar 11%, prevalensi Theileria sp.  89%, dan prevalensi infeksi Anaplasma sp. sebesar 50%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berasosiasi dan meningkatkan kejadian parasit darah adalah tipologi sambilan, pengalaman beternak kurang dari 2 tahun, 1 tempat pakan untuk 2 ekor ternak dan 1 tempat pakan untuk 3 ekor ternak atau lebih, ketersediaan air yang terbatas, tidak pernah memandikan sapi, tidak pernah melakukan penanggulangan vektor, tidak ada tempat penampungan kotoran, sistem pemberian pakan rumput segar yang langsung diberikan tanpa dilayukan terlebih dahulu, tidak ada pengetahuan tentang penyakit parasit darah, dan cara pemberian insektisida dengan semprot manual.
Penanggulangan dan pencegahan kejadian infeksi parasit darah di UPT Peternakan dan Puskesawan Wilayah III dapat dilakukan melalui surveillance berkelanjutan dengan memperhatikan dan meninjau faktor risiko yang berasosiasi dan meningkatkan kejadian infeksi parasit darah, sehingga kegiatan tersebut dapat lebih efektif dan tepat sasaran.Petugas kesehatan hewan perlu melakukan penyuluhan kepada peternak untuk melakukan perbaikan sistem manajemen ternak sehingga dapat mencegah dan menurunkan kejadian penyakit akibat infeksi berulang pada ternak, diantaranya memperhatikan ketersediaan air di kandang, secara rutin memandikan ternak, pakan segar dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak dan rutin melakukan penanggulangan vektor menggunakan akarisida (insektisida) yang tepat dan teratur.

Keterbatasan

Kegiatan survey kejadian parasit darah pada sapi di UPT Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pembinaan Puskeswan yang ada di Sumatera Barat yang dilaksanakan oleh Seksi Pelayanan Medik dan Pengawas Obat Hewan Provinsi Sumatera Barat. Keterbatasan anggaran menyebabkan perhitungan besaran sampel tidak dapat dihitung berdasarkan rancangan penelitian menggunakan kajian lintas seksional, sehingga data yang diperoleh merupakan hasil survei dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sebelumnya.

Daftar Pustaka

1.        Alonso et al., 1992. Epidemiology of bovine anaplasmosis and babesiosis in Latin America and the Caribbean. Epiz. 11(3): 713-733.
2.        Anggarini, N.F., 2013. Kajian penyakit parasit darah pada sapi potong peternakan rakyat Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Skripsi. IPB.
3.        Anonimus. 2015. Letak geografis dan sumber daya alam Kabupaten Lima Puluh Kota.(diunduh tanggal 1 Desember 2015). Tersedia pada www.limapuluhkota.go.id.
4.        Bailey G, 2011. Bovine anemia caused by Theileria orientalis group. Department of Primary Indutries. New South Wales.
5.        Bock L, Jackson L, De VosA, dan JorgensenW, 2004. Babesiosis of cattle. Parasitology (129) : 247-269.
6.        Cahyani, W.I., Rosidi, A., dan Andarsari, W., 2012. Lama kerja dan pendidikan sebagai faktor yang berperan dalam praktik pijat bayi dukun bayi. Jurnal Kebidanan. 1: 1.
7.        Carter, P.D., and Rolls, P., 2015. Bloods parasites. The Merck Veterinary Manual. http:/www.merckvetmanual.com. Diakses tanggal 1 Desember 2015.
8.        Darma. 2015. Deteksi parasit darah Babesia sp. pada Sapi Bali di Kelurahan Lalabata Rilau Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng. Skripsi. Universitas Hasanuddin.
9.        Disnakeswan Kabupaten Lima Puluh Kota. 2014. Data statistik ternak tahun 2014. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota.
10.    Fuente, J., Golsteyn, T., and Kocan K.M. 2003. Characterization of Anaplasma marginale Isolated from North American Bison. Applied and Environmental Microbiology.
11.    Himawan, W., 2009. Identifikasi parasit darah pada kerbeua belang (Tedong bonga) dan kerbau rawa (Swamp buffalo) di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Skripsi. IPB.
12.    Ichsan, H.N., 2014. Prevalensi, Derajat Infeksi, dan Faktor Risiko Infeksi Parasit Darah pada Sapi Potong Kecamatan Cikalong, Tasikmalaya. Skripsi. IPB.
13.    Iowa State University. 2008. Bovine babesiosis. The center fot Food Security and Public Health. Iowa.
14.    Kocan, K.M., de la Fuente J., Blouin E.F., Garcia CJ. 2004. Anaplasma marginale (Rickettsiales: Anaplasmataceae): recent advances in defening  hostpathogen adaptations of tick-borne rickettsia. Vet Parasitol. 129: 285-300.
15.    Levine, N.D.,1992. Protozoologi Veteriner. Ashadi G, penerjemah. Yogyakarta (ID): UGM Press. Terjemahan dari : Veterinary Protozoology.
16.    OIE. 2015. Bovine Anaplasmosis. OIE Terrestrial Manual 2015.
17.    OIE. 2013. Bovine Babesiosis. OIE Scientifict and Technical Department.
18.    OIE. 2009. Theileriosis. OIE Scientifict and Technical Department.
19.    Oktarianti, E. 2014. Kajian Lintas Seksional dan Profil Biokimia Darah Kejadian Anestrus Pada Sapi Potong di Kabupaten Grobogan. Tesis.UGM Yogyakarta.
20.    Nasution, A.Y., 2007. Parasit Darah pada Ternak Sapi dan Kambing di Lima Kecamatan, Kota Jambi. Skripsi. IPB.
21.    Reinbold et al., 2010. Comparison of iatrogenic transmission of Anaplasma marginale in Holstein steer needle and needle-free injection techniques. Am. J. Vet. Res. 71: 1178-1188.
22.    Roos, D.S., 2005. Themes and variations in Apixomplexan parasite biology. Science. 309: 72-73.
23.    Trisnadi, G., 2015. Babesiosis, penyakit pada sapi dan hewan lainnya. Disadur dari Manual enyakit hewan mamalia. Kementerian Pertanian. Jakarta.