Survey Penyakit Parasit Darah
pada Sapi di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Kabupaten Lima Puluh Kota
Eka Oktarianti1, Betty
Indah Purnama2
1UPT Peternakan dan Pukeswan
Wilayah III Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Lima Puluh Kota
2Dinas Peternakan dan Kesehatan
Hewan Provinsi Sumatera Barat
E-mail : eka.oktarianti0606@gmail.com
eka.oktarianti26@yahoo.co.id
ABSTRAK
Parasit
darah adalah penyakit yang bersifat endemik terutama di daerah tropis dan
subtropis di seluruh dunia. Parasit darah yang penting di Indonesia adalah
Anaplasmosis, Babesiosis dan Tehileriosis. Parasit darah berdampak secara
ekonomi terhadap usaha sektor peternakan karena dapat menimbulkan kerugian.
Survey ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi parasit darah, serta faktor
yang memengaruhi kejadian parasit darah. Survey dilakukan terhadap 100 ekor
sapi potong yang diambil sampel darah di wilayah kerja UPT Peternakan dan
Puskeswan Wilayah III pada dua kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota
(Kecamatan Situjuah dan Akabiluru). Pengambilan sampel dilakukan pada kelompok
ternak sapi dengan metoda sampel alokasi proporsional (Proportional sampling). Data kuisioner dikumpulkan dan diolah
menggunakan Statistix for Windows Version
8 software. Analisis data meliputi: analisis univariat dan bivariat dengan chi-square (χ2) dan odds ratio (OR). Hasil survey
menunjukkan bahwa prevalensi kejadian parasit darah adalah 97%, kejadian
parasit darah akibat infeksi oleh Babesia
sp. sebesar 11%, prevalensi kinfeksi penyakit Theileria sp. adalah 89%, dan prevalensi kejadian parasit darah
yang disebabkan oleh Anaplasma sp.
adalah sebesar 50%. Faktor yang berasosiasi meningkatkan kejadian parasit darah
adalah tipologi peternak, pengalaman beternak, tempat pakan, ketersediaan air,
frekuensi memandikan sapi, frekuensi penanggulangan vektor, tempat penampungan
kotoran, tipe lantai, sistem pemberian pakan, pengetahuan tentang parasit
darah, dan cara penggunaan insektisida. Hasil survey ini dapat disimpulkan
bahwa kejadian parasit darah pada sapi potong disebabkan oleh multifaktor.
Kata kunci : Parasit darah,
prevalensi, faktor risiko, sapi, UPT III
Kabupaten Lima Puluh Kota
Pendahuluan
Parasit
darah adalah penyakit yang bersifat endemik terutama di daerah tropis dan
subtropis di seluruh dunia (10). Parasit darah yang penting di
Indonesia adalah Anaplasmosis, Babesiosis dan Tehileriosis. Infeksi penyakit Anaplasma, Babesia dan Theileria berdampak secara ekonomi
terhadap usaha sektor peternakan karena dapat menimbulkan kerugian, tidak hanya
karena tingkat kematian, angka kesakitan, abortus, penurunan produksi susu dan
daging (4,21), biaya untuk pengobatan(5), juga
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, penurunan berat badan, penurunan produktifitas,
dan penurunan status reproduksi (20). Infestasi berbagai jenis
parasit pada ternak tersebut, juga merupakan salah satu kendala dalam
peningkatan dan perbaikan status kesehatan ternak yang merupakan bagian dari
usaha dalam peningkatan populasi dan produktivitas ternak di Indonesia.
Penyebaran
penyakit parasit darah sangat bergantung kondisi ternak (hospes), agen
penyakit, vektor dan lingkungan (5), diantaranya kondisi geografis,
iklim, cuaca, sosial budaya dan sosial ekonomi di daerah tersebut (20),
sedangkan menurut Alonso et al.
(1992), penyakit parasit darah juga dapat dipengaruhi oleh ras sapi, acarisida (insektisida), dan sistem
pemberian pakan.Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anggarini NF (2013)
faktor risiko yang berasosiasi dengan kejadian parasir darah adalah oleh jenis
kelamin ternak, umur ternak, cara beternak (2).
Kabupaten
Lima Puluh Kota termasuk daerah padat ternak dan mempunyai potensi peternakan
yang besar, terletak di daerah tropis, dengan curah hujan rata-rata berkisar
antara 2200-3750 mm/tahun, suhu rata-rata berkisar antara 200C–250C,
dengan kelembapan berkisar antara 60-80% (3). Tingginya populasi ternak serta
kondisi cuaca yang lembab dapat menjadi salah satu faktor berkembangnya
berbagai penyakit ternak, salah satunya parasit darah.
Pada
tahun 2014, telah dilakukan pengambilan sampel darah terhadap 100 ekor sapi
potong untuk dilakukan pemeriksaan terhadap parasit darah. Hasilnya menunjukkan
bahwa sapi yang terinfeksi Anaplasma
sp. sebanyak 32 ekor, Babesia sp. 3
ekor, dan yang terinfeksi Theileria
sp. sebanyak 100 ekor, sedangkan analisa terhadap faktor resiko yang
mempengaruhi terjadinya parasit darah pada ternak belum dilakukan. Survei
terhadap prevalensi dan faktor risiko ini diharapkan dapat memberikan masukan
kepada instansi terkait dalam merumuskan kebijakan pengendalian dan pencegahan
kejadian parasit darah sehingga kegiatan dapat dilakukan secara efektif dan
efisien.
Tujuan Penulisan
Tujuan
dari survei ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui prevalensi
kejadian parasit darah dan faktor risiko yang memengaruhi kejadian parasit
darah di UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Kabupaten Lima Puluh Kota,
sehingga akan didapatkan informasi ilmiah yang dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Lim Puluh Kota dalam menentukan kebijakan
pencegahan dan penanggulangan penyakit parasit darah.
Materi dan Metode
Survei
ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan menyidik faktor risiko yang
berpengaruh terhadap penyakit parasit darah. Variabel dependen (Y) adalah sapi
yang mengalami parasit darah (Babesiosis, Theileriosis, dan Anaplasmosis),
sedangkan faktor risiko sebagai variabel independen (X) adalah kelompok ternak,tipologi
peternak, pendidikan, pengalaman beternak, jumlah kepemilikan, tempat makan dan
minum, ketersediaan air, frekuensi membersihkan kandang, frekuensi memandikan
sapi, frekuensi penanggulangan vektor, penampung kotoran, kondisi lantai,
kondisi kandang, sistem pemeliharaan, sistem pemberian pakan, pengetahuan
tentang parasit darah, asal sapi, umur sapi, infestasi ektoparasit, dan cara penggunaan
insektisida.
Pengumpulan
data primer dilakukan dengan wawancara dan kuisioner terhadap peternak,
pengamatan terhadap ternak dan peternakan, pemeriksaan kesehatan ternak,
pengambilan sampel darah dan pembuatan preparat ulas darah. Data sekunder adalah data populasi ternak di UPT
Peternakan dan Puskeswan Wilayah III berdasarkanData Statistik Dinas Peternakan
dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2014. Pengambilan sampel dilakukan pada
kelompok ternak dengan metoda sampel alokasi proporsional (Proportional sampling), dengan rumus :
Fraksi sampel = Besar sampel
x jumlah ternak
sapidi kelompok ternak
Populasi ternak sapi di kec
(Puskeswan)
Pengambilan
sampel kelompok sapi dengan menggunakan random
sampling di jorong-jorong pada beberapa nagari atau desa di wilayah kerja
UPT Wilayah III. Kelompok ternak yang diambil sampel darah sapinya adalah
Kelompok Ternak Sago Sejati, Tuah Sakato, Lurah Kubu, Lokuak Dama, Fajar Surya,
Immahdi, Elok Basamo, Bukik Komba, Sungai Jelatang dan Armen, dengan jumlah
sampel sebanyak 100 ekor. Sampel berupa preparat ulas darah dikirim ke balai
Veteriner Bukittingi untuk dilakukan pengujian terhadap parasit darah.
Data
dianalisis secara univariat (frekuensi dan distribusi), serta bivariat (uji chi-square (c2) dan (odds ratio), dengan menggunakan software Statistic
for Windows Version 8.
Hasil
Tingkat prevalensi infeksi
parasit darah
Tingkat
prevalensi infeksi parasit darah pada sapi kelompok ternak di wilayah kerja UPT
Peternakan dan Puskeswan Wilayah III disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat
prevalensi infeksi parasit darah
Kelompok
|
Jumlah sampel
|
Hasil pemeriksaan
|
|||||
Babesia sp.
|
Theileria sp.
|
Anaplasma sp.
|
|||||
Jml (+)
|
%
|
Jml (+)
|
%
|
Jml (+)
|
%
|
||
Sago Sejati
|
7
|
0
|
0
|
6
|
85.7
|
5
|
71.4
|
Tuah Sakato
|
9
|
1
|
11.1
|
7
|
77.8
|
7
|
77.8
|
Lurah Kubu
|
14
|
0
|
0
|
10
|
71.4
|
13
|
92.9
|
Lokuak Dama
|
10
|
0
|
0
|
9
|
90
|
8
|
80
|
Fajar Surya
|
7
|
0
|
0
|
7
|
100
|
0
|
0
|
Immahdi
|
17
|
0
|
0
|
17
|
100
|
6
|
35.3
|
Elok Basamo
|
5
|
1
|
20
|
5
|
100
|
2
|
40
|
Bukik Komba
|
9
|
6
|
66.7
|
9
|
100
|
6
|
66.7
|
Sei. Jelatang
|
11
|
2
|
18.2
|
11
|
100
|
2
|
18.2
|
Armen
|
11
|
1
|
9.1
|
8
|
72.7
|
1
|
9.1
|
Jumlah
|
100
|
11
|
11
|
89
|
89
|
50
|
50
|
Sampel
darah sapi yang diperiksa sebanyak 100 sampel, diketahui bahwa prevalensi
kejadian parasit darah sebesar 97%. Prevalensi Babesia sp. sebesar 11%, Theileria 89% dan prevalensi Anaplasma sp. sebesar 50%. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Himawan
(2009), tingkat prevalensi infeksi parasit darah dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan
(suhu, curah hujan dan kelembapan). Ditinjau dari letak geografinya, kelompok
ternak tersebut pada umumnya berada pada dataran tinggi di lereng Gunung
Sago sehingga mempunyai kelembababan
yang tinggi. Curah hujan dan sistem pemeliharaan ternak yang berbedadapat menyebabkan
perkembangan vektor (caplak) sebagai penyebar infeksi Babesia sp., Theileria
sp., dan Anaplasma sp. akan berbeda pada setiap wilayah (Nasution, 2007).
Faktor
risiko kejadian parasit darah berdasarkan analisis bivariat
Hasil
analisis faktor risiko terhadap beberapa variabel,menunjukkan bahwa faktor yang
mempunyai asosiasi (P < 0,05) terhadap kejadian parasit darah di UPT
Peternakan dan Puskeswan Wilayah III Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
Kabupaten Lima Puluh Kota, disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil analisis faktor
risiko kejadian parasit darah
Faktor
|
N
|
Babesia sp.
|
Theileria sp.
|
Anaplasma sp.
|
|||||||||
n
|
%
|
P
|
OR
|
n
|
%
|
p
|
OR
|
n
|
%
|
p
|
OR
|
||
Kelompok
|
|||||||||||||
Sago sejati
|
7
|
0
|
0
|
6
|
85.7
|
5
|
71.4
|
||||||
Tuah sakato
|
9
|
1
|
11.1
|
7
|
77.8
|
7
|
77.8
|
||||||
Lurah kubu
|
14
|
0
|
0
|
10
|
71.4
|
0.024*
|
0.22
|
13
|
92.9
|
0.001*
|
17.22
|
||
Lokuak dama
|
10
|
0
|
0
|
9
|
90
|
8
|
80
|
0.046*
|
4.57
|
||||
Fajar surya
|
7
|
0
|
0
|
7
|
100
|
0
|
0
|
0.006*
|
Ref
|
||||
Immahdi
|
17
|
0
|
0
|
17
|
100
|
6
|
35.3
|
||||||
Elok basamo
|
5
|
1
|
20
|
5
|
100
|
2
|
40
|
||||||
Bukik komba
|
9
|
6
|
66.7
|
0.000*
|
34.4
|
9
|
100
|
6
|
66.7
|
||||
Sei jelatang
|
11
|
2
|
18.2
|
11
|
100
|
2
|
18.2
|
0.025*
|
0.19
|
||||
Armen
|
11
|
1
|
9.1
|
8
|
72.7
|
1
|
9.1
|
0.004*
|
0.08
|
||||
Tipologi
|
|||||||||||||
Usaha pokok
|
22
|
1
|
4.5
|
18
|
81.8
|
16
|
72.4
|
||||||
Cabang usaha
|
50
|
3
|
6
|
43
|
86
|
22
|
44
|
||||||
Sambilan
|
28
|
7
|
25
|
0.005*
|
5.67
|
28
|
100
|
0.028*
|
Ref
|
12
|
42.9
|
||
Pengalaman beternak
|
|||||||||||||
< 2 tahun
|
20
|
6
|
30
|
0.003*
|
6.43
|
20
|
100
|
9
|
45
|
||||
>2 tahun
|
80
|
5
|
6.3
|
0.003*
|
0.16
|
69
|
86.3
|
41
|
51.3
|
||||
Tempat pakan
|
|||||||||||||
Terpisah
|
21
|
1
|
4.8
|
21
|
100
|
7
|
33.3
|
||||||
1 untuk 2 sapi
|
62
|
10
|
16.1
|
0.036*
|
7.12
|
53
|
85.5
|
30
|
48.4
|
||||
1 untuk 3/lebih sapi
|
17
|
0
|
0
|
15
|
88.2
|
13
|
76.5
|
0.017*
|
4.04
|
||||
Ketersediaan air
|
|||||||||||||
Selalu tersedia
|
58
|
4
|
6.9
|
52
|
87.9
|
24
|
41.4
|
0.043*
|
0.43
|
||||
Musiman
|
17
|
0
|
0
|
25
|
88.2
|
13
|
76.5
|
0.017*
|
4.04
|
||||
Sulit
|
25
|
7
|
28
|
0.002*
|
6.90
|
23
|
92
|
13
|
52
|
||||
Faktor
|
N
|
Babesia sp.
|
Theileria sp.
|
Anaplasma sp.
|
|||||||||
n
|
%
|
P
|
OR
|
n
|
%
|
p
|
OR
|
n
|
%
|
p
|
OR
|
||
Frekuensi memandikan sapi
|
|||||||||||||
Rutin
|
53
|
2
|
3.8
|
0.014*
|
0.17
|
45
|
84.9
|
26
|
49.1
|
||||
Tidak pernah
|
47
|
9
|
19.1
|
0.014*
|
6.04
|
44
|
93.6
|
24
|
51.1
|
||||
Frekuensi penanggulangan vektor
|
|||||||||||||
Rutin
|
46
|
2
|
4.3
|
0.049*
|
0.23
|
39
|
84.8
|
21
|
45.7
|
||||
Insidentil
|
26
|
2
|
7.7
|
25
|
96.2
|
8
|
30.8
|
0.023*
|
0.34
|
||||
Tidak pernah
|
28
|
7
|
25
|
0.005*
|
5.67
|
25
|
89.3
|
21
|
75
|
0.002*
|
4.45
|
||
Tempat penampung kotoran
|
|||||||||||||
Ada
|
63
|
3
|
4.8
|
53
|
84.1
|
34
|
54
|
||||||
Tidak ada
|
37
|
8
|
21.6
|
0.009*
|
5.52
|
36
|
97.3
|
0.042*
|
6.79
|
16
|
43.2
|
||
Tipe lantai kandang
|
|||||||||||||
Semen/permanen
|
84
|
7
|
8.3
|
75
|
89.3
|
40
|
47.6
|
||||||
Tanah
|
7
|
3
|
42.9
|
0.005*
|
7.97
|
7
|
100
|
3
|
42.9
|
||||
Kayu
|
9
|
1
|
11.1
|
7
|
77.8
|
7
|
77.8
|
||||||
Sistem pemberian pakan
|
|||||||||||||
Langsung diberikan
|
55
|
9
|
11.3
|
74
|
92.5
|
0.025*
|
4.11
|
42
|
52.5
|
||||
Dilayukan terlebih dahulu
|
45
|
2
|
10
|
15
|
75
|
0.025*
|
0.24
|
8
|
40
|
||||
Pengetahuan tentang parasit darah
|
|||||||||||||
Tahu
|
11
|
1
|
9.1
|
8
|
72.7
|
1
|
9.1
|
0.004*
|
12.25
|
||||
Tidak tahu
|
89
|
10
|
11.2
|
81
|
91
|
49
|
55.1
|
||||||
Cara memandikan sapi
|
|||||||||||||
Semprot manual
|
72
|
10
|
13.9
|
64
|
88.9
|
43
|
59.7
|
0.002*
|
4.45
|
||||
Semprot alat
|
28
|
1
|
3.6
|
25
|
89.3
|
7
|
25
|
0.002*
|
0.23
|
||||
Dipping
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
||||||
N:jumlah
peternak, n:jumlah positif terinfeksi, %:presentase prevalensi parasit, p:nilai
Pearson chi square, OR:odds ratio,
Hasil
analisis faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap
kejadian Babesiosis adalah Kelompok Ternak Bukik Komba (P=0,000; OR=34,4),
tipologi sambilan (P=0,005; OR=5,67), pengalaman beternak kurang dari 2 tahun
(P=0,002; OR=6,43), 1 tempat pakan disediakan untuk 2 ekor ternak (P=0,036;
OR=7,12), ketersediaan air yang sulit (P=0,002; OR=6,90), tidak pernah
memandikan sapi (P=0,014; OR=6,04), frekuensi penanggulangan vektor secara
insidentil (P=0,005; OR=5,67), tidak ada tempat penampungan kotoran (P=0,009;
OR=5,52), tipe lantai terbuat dari tanah (0,005; OR=7,97).
Hasil
analisis faktor risiko terhadap kejadian Theileriosis, menunjukkan bahwa
variabel yang berasosiasi adalah tidak ada tempat penampungan kotoran (P=0,042;
OR=6,79), serta sistem pemberian pakan yang langsung diberikan tanpa dilayukan
(P=0,025; OR= 4,11).
Hasil
analisis faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap
kejadian Anaplasmosis adalah Kelompok Ternak Lurah Kubu (P=0.005; OR=17,22),
Kelompok Ternak Lokuak Dama (P=0,045; OR=4,57), Kelompok Ternak Fajar Surya
(P=0,006; OR=-), tempat pakan yang disediakan 1 untuk 3 ekor atau lebih
(P=0,017; OR=4,04), air yang ketersediaannya musiman (P=0,017; OR=4,04), tidak
pernah melakukan penanggulangan vektor (P=0,001; OR=4,45), tidak adanya
pengetahuan tentang parasit darah (P=0,004; OR=12,25), cara menggunakan
insektisida secara semprot manual (P=0,002; OR= 4,45).
Pembahasan
Analisis
faktor risiko menunjukkan bahwa variabel yang berasosiasi terhadap kejadian
parasit darah adalah tipologi sambilan, pengalaman beternak kurang dari 2
tahun, 1 tempat pakan untuk 2 ekor ternak dan 1 tempat pakan untuk 3 ekor
ternak atau lebih, ketersedaiaan air yang terbatas, tidak pernah memandikan
sapi, tidak pernah dilakukanpenanggulangan vektor, tidak ada tempat penampungan
kotoran, sistem pemberian pakan rumput segar yang langsung diberikan tanpa
dilayukan terlebih dahulu, tidak ada pengetahuan tentang penyakit parasit
darah, serta cara pemberian insektisida dengan semprot manual.
Peternakan
yang dilakukan sebagai usaha sambilan berasosiasi dengan kejadian Babesia sp. dan Theileria sp., karena peternakan dengan tujuan sambilan mempunyai
waktuyang terbatas untuk membersihkan kandang dan pengamatan status kesehatan
hewan akibat kesibukan utama lainnya (18).Peternak dengan pengalaman
kurang dari2 tahun berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis.Menurut Cahyani et al. (2012), aspek lama atau
pengalaman bekerja akan diikuti dengan keterampilan yang semakin matang dalam
menjalankan pekerjaannya. Peternak yang lebih lama, akan selaras dengan
penerapan manajemen pemeliharaan yang lebih baik pula (7).
Berdasarkan analisis juga diketahui bahwa kandang dengan tempat pakan yang
tidak terpisahberasosiasi terhadap kejadian Babesiosis dan Anaplasmosis, karena
akan memudahkan transmisi penyakit dari ternak terinfeksi ke ternak lain di
sekitarnya.Terbatasnya ketersediaan air berasosiasi terhadap kejadian
Babesiosis dan Anaplasmosis, karena air merupakan kebutuhan yang sangat penting
bagi ternak, selain untuk kebutuhan minum juga untuk keperluan sanitasi kandangdan
memandikan ternak.
Frekuensi
memandikan sapi berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis. Berdasarkan analisis cross tabulation menunjukkan bahwa 53,2%
sapi yang tidak pernah dimandikan disebabkan karna ketersediaan air yang sulit.
Sapi yang sering dimandikan akan mengurangi kejadian parasit darah karena
vektor (caplak) yang menempel tidak ada atau berkurang (7).Variabel
manajemen kebersihan kandang yang beraosisasi terhadap kejadian parasit darah
adalah tidak adanya tempat penampungan kotoran sehingga peternak cenderung
membiarkan kotoran berada di bagian belakang kandang. Kondisi tersebut akan
menjadikan kandang kotor sehingga menjadi tempat berkembangbiaknya vektor.
Kandang yang bersih diharapkan dapat menurunkan tingkat kejadian parasit darah (7).Lantai
yang terbuat dari tanah berasosiasi terhadap kejadian Babesiosis, karenalantai
dari tanah akan membuat kadang selalu basah dan lembab, serta terlihat kotor
terutama di musim hujan. Kondisi tersebut akan menyebabkan caplak lebih cepat
berkembangbiak.
Pemberian
askarisida (insektisida) diperlukan pada pengendalian penyakit parasit darah.
Ternak sebagian besar telah diberi insektisida, akan tetapi masih banyak ternak
yang terinfeksi parasit darah. Tingginya infeksi parasit darah pada sapi yang
telah diberi insektisida dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan peternak
tentang penggunaan insektisida yang efektif dan efisien (2).
Berdasarakan hasil survey menunjukkan bahwa penanggulangan ektoparasit yang tidak
pernah dilakukan maupun yang dilakukan secara insidentil berasosiasi terhadap
kejadian Babesiosis dan Anaplasmosis. Pengendalian caplak dengan insektisida
yang dilakukan secara semprot manual berpengaruh terhadap kejadian
Anaplasmosis. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2013) menunjukan bahwa
prevalensi parasit darah menggunakan insektisida cenderung lebih tinggi
daripada pengambilan caplak secara manual. Hal ini diduga karena pemakaian
insektisida yang salah oleh peternak. Penggunaan insektisida harus
memperhatikan cara pemakaian dan dosis yang tepat agar pengendalian caplak
menjadi efektif. Penyemprotan secara manual menyebabkan pemakaian yang tidak
merata keseluruh tubuh ternak sehingga tidak akan membunuh semua caplak.
Cara
pemberian pakan rumput yang langsung diberikan tanpa dilayukan terlebih dahulu
berasosiasi terhadap kejadian Theileriosis. Menurut Himawan (2009), rumput
segar dipagi hari banyak mengandung caplak yang sedang aktif berburu dan berada
dipuncak rerumputan.
Tingginya
prevalensi parasit darah di wilayah kerja UPT Peternakan dan Puskeswan Wilayah
III, dapat diatasi dengan perbaikan
manajemen pemeliharaan terutama kontrol terhadap vektor. Sapi yang terinfeki
dapat diobati dengan antiprotozoa atau antirickettsia.
Kesimpulan dan Saran
Prevalensi
infeksi parasit darah pada sapi potong di UPT Wilayah III Kabupaten Lima Puluh
Kota adalah 97 %, dengan masing-masing prevalensi penyakit adalahBabesia sp.sebesar 11%, prevalensi Theileria sp. 89%, dan prevalensi infeksi Anaplasma sp. sebesar 50%. Hasil
analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berasosiasi dan
meningkatkan kejadian parasit darah adalah tipologi sambilan, pengalaman
beternak kurang dari 2 tahun, 1 tempat pakan untuk 2 ekor ternak dan 1 tempat
pakan untuk 3 ekor ternak atau lebih, ketersediaan air yang terbatas, tidak
pernah memandikan sapi, tidak pernah melakukan penanggulangan vektor, tidak ada
tempat penampungan kotoran, sistem pemberian pakan rumput segar yang langsung
diberikan tanpa dilayukan terlebih dahulu, tidak ada pengetahuan tentang
penyakit parasit darah, dan cara pemberian insektisida dengan semprot manual.
Penanggulangan
dan pencegahan kejadian infeksi parasit darah di UPT Peternakan dan Puskesawan
Wilayah III dapat dilakukan melalui surveillance
berkelanjutan dengan memperhatikan dan meninjau faktor risiko yang berasosiasi
dan meningkatkan kejadian infeksi parasit darah, sehingga kegiatan tersebut
dapat lebih efektif dan tepat sasaran.Petugas kesehatan hewan perlu melakukan
penyuluhan kepada peternak untuk melakukan perbaikan sistem manajemen ternak
sehingga dapat mencegah dan menurunkan kejadian penyakit akibat infeksi
berulang pada ternak, diantaranya memperhatikan ketersediaan air di kandang,
secara rutin memandikan ternak, pakan segar dilayukan terlebih dahulu sebelum
diberikan kepada ternak dan rutin melakukan penanggulangan vektor menggunakan
akarisida (insektisida) yang tepat dan teratur.
Keterbatasan
Kegiatan
survey kejadian parasit darah pada sapi di UPT Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten
Lima Puluh Kota merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pembinaan Puskeswan
yang ada di Sumatera Barat yang dilaksanakan oleh Seksi Pelayanan Medik dan
Pengawas Obat Hewan Provinsi Sumatera Barat. Keterbatasan anggaran menyebabkan
perhitungan besaran sampel tidak dapat dihitung berdasarkan rancangan
penelitian menggunakan kajian lintas seksional, sehingga data yang diperoleh
merupakan hasil survei dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sebelumnya.
Daftar Pustaka
1.
Alonso
et al., 1992. Epidemiology of bovine anaplasmosis
and babesiosis in Latin America and the Caribbean. Epiz. 11(3): 713-733.
2.
Anggarini,
N.F., 2013. Kajian penyakit parasit darah pada sapi potong peternakan rakyat
Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Skripsi. IPB.
3.
Anonimus.
2015. Letak geografis dan sumber daya
alam Kabupaten Lima Puluh Kota.(diunduh tanggal 1 Desember 2015). Tersedia
pada www.limapuluhkota.go.id.
4.
Bailey
G, 2011. Bovine anemia caused by
Theileria orientalis group. Department of Primary Indutries. New South
Wales.
5.
Bock
L, Jackson L, De VosA, dan JorgensenW, 2004. Babesiosis of cattle. Parasitology (129) : 247-269.
6.
Cahyani,
W.I., Rosidi, A., dan Andarsari, W., 2012. Lama kerja dan pendidikan sebagai
faktor yang berperan dalam praktik pijat bayi dukun bayi. Jurnal Kebidanan. 1: 1.
7.
Carter,
P.D., and Rolls, P., 2015. Bloods
parasites. The Merck Veterinary Manual. http:/www.merckvetmanual.com. Diakses
tanggal 1 Desember 2015.
8.
Darma.
2015. Deteksi parasit darah Babesia sp. pada Sapi Bali di Kelurahan Lalabata
Rilau Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng. Skripsi.
Universitas Hasanuddin.
9.
Disnakeswan
Kabupaten Lima Puluh Kota. 2014. Data statistik ternak tahun 2014. Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota.
10.
Fuente,
J., Golsteyn, T., and Kocan K.M. 2003. Characterization
of Anaplasma marginale Isolated from North American Bison. Applied and
Environmental Microbiology.
11.
Himawan,
W., 2009. Identifikasi parasit darah pada kerbeua belang (Tedong bonga) dan
kerbau rawa (Swamp buffalo) di
Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Skripsi.
IPB.
12.
Ichsan,
H.N., 2014. Prevalensi, Derajat Infeksi, dan Faktor Risiko Infeksi Parasit
Darah pada Sapi Potong Kecamatan Cikalong, Tasikmalaya. Skripsi. IPB.
13.
Iowa
State University. 2008. Bovine babesiosis.
The center fot Food Security and Public Health. Iowa.
14.
Kocan,
K.M., de la Fuente J., Blouin E.F., Garcia CJ. 2004. Anaplasma marginale
(Rickettsiales: Anaplasmataceae): recent advances in defening hostpathogen adaptations of tick-borne
rickettsia. Vet Parasitol. 129:
285-300.
15.
Levine,
N.D.,1992. Protozoologi Veteriner.
Ashadi G, penerjemah. Yogyakarta (ID): UGM Press. Terjemahan dari : Veterinary Protozoology.
16.
OIE.
2015. Bovine Anaplasmosis. OIE
Terrestrial Manual 2015.
17.
OIE.
2013. Bovine Babesiosis. OIE
Scientifict and Technical Department.
18.
OIE.
2009. Theileriosis. OIE Scientifict
and Technical Department.
19.
Oktarianti,
E. 2014. Kajian Lintas Seksional dan Profil Biokimia Darah Kejadian Anestrus
Pada Sapi Potong di Kabupaten Grobogan. Tesis.UGM
Yogyakarta.
20.
Nasution,
A.Y., 2007. Parasit Darah pada Ternak Sapi dan Kambing di Lima Kecamatan, Kota
Jambi. Skripsi. IPB.
21.
Reinbold
et al., 2010. Comparison of iatrogenic transmission of Anaplasma marginale in
Holstein steer needle and needle-free injection techniques. Am. J. Vet. Res. 71: 1178-1188.
22.
Roos,
D.S., 2005. Themes and variations in Apixomplexan parasite biology. Science. 309: 72-73.
23.
Trisnadi,
G., 2015. Babesiosis, penyakit pada sapi
dan hewan lainnya. Disadur dari Manual enyakit hewan mamalia. Kementerian
Pertanian. Jakarta.